
Kuliner Mongolia dikenal unik, sederhana, tapi sangat “mengena”. Kondisi geografis yang didominasi padang rumput luas, musim dingin ekstrem, serta tradisi hidup nomaden membuat makanan mereka berfokus pada sumber daya yang tersedia: daging, susu, dan hasil ternak. Jadi jangan heran kalau banyak hidangan mereka terasa kuat, berlemak, dan benar-benar menghangatkan tubuh.
Di artikel ini, kita bahas lebih jauh tentang karakter kuliner Mongolia dan alasan di balik keunikan rasanya.
Warisan Tradisi Nomaden
Masyarakat Mongolia sejak dulu hidup berpindah-pindah mengikuti ketersediaan padang rumput untuk ternak. Pola hidup nomaden ini membentuk kebiasaan makan yang praktis dan bergizi tinggi. Mereka tidak punya banyak waktu atau fasilitas untuk memasak hidangan kompleks, sehingga makanan biasanya dibuat simpel, tahan lama, dan mudah dibawa.
Karena iklim Mongolia bisa mencapai suhu -30°C di musim dingin, makanan berlemak tinggi seperti daging kambing, domba, dan sapi menjadi sumber energi vital. Lemak dianggap bahan bakar utama untuk bertahan hidup dalam cuaca ekstrem.
Daging: Bahan Utama dalam Setiap Hidangan
Tidak berlebihan kalau daging disebut “bahan pokok” kuliner Mongolia. Berikut beberapa hidangan khas berbasis daging yang paling populer:
1. Buuz (Pangsit Daging Kukus)
Buuz adalah pangsit kukus berisi daging domba cincang yang dicampur sedikit garam dan bawang. Rasanya sederhana tapi efektif: juicy, gurih, dan kaya aroma daging. Buuz biasanya disajikan saat Tahun Baru Mongolia, Tsagaan Sar, tapi kini menjadi makanan sehari-hari yang mudah ditemukan.
2. Khuushuur (Pangsit Goreng Khas Mongolia)
Kalau buuz dikukus, khuushuur adalah versi gorengnya. Bentuknya pipih, digoreng hingga kulitnya kecokelatan dan renyah. Isi daging tetap simpel, biasanya domba atau sapi. Khuushuur sangat populer di festival musim panas Naadam, karena praktis dimakan sambil menonton pertandingan gulat atau balap kuda.
3. Boodog (Daging Kambing yang Dimasak dari Dalam)
Ini salah satu teknik memasak paling unik di dunia. Seekor kambing kecil dibersihkan, lalu tubuhnya diisi batu panas dan dagingnya sendiri, kemudian dipanggang dari bagian dalam. Hasilnya daging super empuk dengan aroma smoky yang khas. Proses ini sering dilakukan dalam perayaan atau acara besar.
4. Khorkhog
Mirip dengan boodog, tapi menggunakan potongan daging domba yang dimasak dalam panci tertutup bersama batu panas. Ketika panci dibuka, aromanya luar biasa. Ini bisa dibilang versi “barbeque Mongolia” yang benar-benar otentik.
Susu: Sumber Energi dari Padang Rumput
Selain daging, Mongolia sangat mengandalkan produk susu dari kuda, sapi, domba, dan yak. Susu difermentasi, dikeringkan, atau diolah menjadi minuman yang menyegarkan.
1. Airag (Susu Kuda Fermentasi)
Airag adalah minuman ikonik Mongolia: susu kuda yang difermentasi hingga mengandung sedikit alkohol. Rasanya asam, segar, dan dipercaya baik untuk pencernaan. Minuman ini sering disajikan sebagai bentuk keramahan tamu.
2. Aaruul (Keju Kering)
Aaruul adalah camilan keju kering yang sangat keras, dibuat dari susu fermentasi yang dijemur di bawah matahari. Teksturnya keras—bahkan bisa susah digigit—tapi rasanya asam-manis menyenangkan dan tahan disimpan berbulan-bulan.
BACA JUGA: Street Food Brazil: 4 Camilan Pinggir Jalan dengan Rasa Tropis
Kuliner Mongolia mungkin terlihat sederhana, tapi di balik itu tersimpan sejarah, kondisi alam, dan gaya hidup yang membentuk cita rasa unik mereka. Dari daging panggang penuh lemak hingga susu fermentasi yang menyegarkan, setiap hidangan mencerminkan ketahanan dan kreativitas masyarakat padang rumput.
Jika kamu suka kuliner yang autentik dan “berjiwa petualangan”, makanan Mongolia adalah pengalaman yang wajib dicoba.
Leave a Reply