
Nepal bukan hanya terkenal dengan keindahan Pegunungan Himalaya, tetapi juga dengan kuliner jalannya yang khas, hangat, dan penuh cita rasa rumahan. Bagi para pendaki, makanan bukan hanya sekadar pengisi perut—tetapi juga sumber energi dan kenyamanan di tengah udara tipis dan suhu dingin. Street food di Nepal punya karakter unik: sederhana, menghangatkan, dan berbahan dasar yang mudah ditemukan di daerah pegunungan. Inilah alasan mengapa banyak pendaki Himalaya jatuh hati pada kuliner jalanan Nepal.
Momo: Dumpling Hangat Penyelamat Suhu Dingin
Jika ada satu makanan yang wajib dicoba ketika berada di Nepal, jawabannya adalah momo. Hidangan ini berbentuk pangsit kecil dengan isian daging ayam, kerbau, atau sayuran. Biasanya momo disajikan dengan saus pedas tomat-garam masala yang menciptakan rasa pedas, asam, dan sedikit smoky.
Bagi pendaki, momo jadi menu favorit karena mudah ditemukan hampir di setiap kota, dari Kathmandu hingga Lukla, pintu masuk menuju Everest. Selain murah dan cepat disajikan, momo punya rasa comforting yang cocok dinikmati setelah perjalanan panjang. Versi kukus adalah yang paling populer, tetapi beberapa warung juga menawarkan momo goreng yang renyah.
Thukpa: Mi Kuah Hangat Khas Pegunungan Tibet
Ketika malam tiba dan suhu mulai menusuk tulang, tak ada yang lebih pas selain semangkuk thukpa, mi kuah khas Himalaya. Thukpa berisi mi, kuah kaldu hangat, sayuran, serta potongan ayam atau daging kerbau. Rasa kuahnya ringan tetapi aromatik, berkat rempah seperti jahe, bawang putih, dan lada.
Thukpa menjadi sajian andalan para pendaki karena memberikan efek menghangatkan yang cepat. Di beberapa daerah trekking seperti Annapurna atau Namche Bazaar, para pemilik guesthouse sering membuat thukpa versi rumahan yang lebih kaya rasa dan lebih mengenyangkan.
Sel Roti: Camilan Gurih-Manis ala Rumah Nenek Nepal
Sel roti adalah roti goreng berbentuk cincin besar yang sering ditemui di pasar pagi. Teksturnya renyah di luar, lembut di dalam, dengan rasa manis natural dari beras yang difermentasi. Makanan ini sering disajikan saat festival, tetapi kini banyak dijual sebagai street food.
Pendaki menyukai sel roti karena ringan dibawa dan tahan lama. Banyak yang membeli sel roti sebagai camilan dalam perjalanan panjang menuju base camp. Biasanya disajikan bersama teh susu panas (chai) yang menjadi minuman wajib di dataran tinggi Nepal.
Laphing: Hidangan Pedas-Menendang ala Komunitas Tibet
Laphing adalah hidangan unik berupa jelly tepung kanji yang dipotong tipis lalu disiram saus minyak cabai, bawang, lada Sichuan, dan cuka. Rasanya pedas, asam, dan segar. Meski tampak sederhana, laphing punya sensasi pedas yang cukup mengejutkan, apalagi jika dimakan di hawa dingin.
Banyak pendaki mencarinya di area Boudha dan Thamel karena dipercaya bisa “membangkitkan” tenaga setelah lelah beraktivitas seharian.
Aloo Chop dan Sekuwa: Street Food Hemat, Gurih, dan Mengenyangkan
Selain makanan berkuah, kuliner gorengan juga sangat populer. Aloo chop adalah gorengan kentang berbumbu yang dibalut tepung lalu digoreng hingga renyah. Sementara sekuwa adalah sate Nepal berbahan daging kerbau atau ayam yang dipanggang dengan bumbu lokal seperti timur masala.
Keduanya banyak dijual pada sore hingga malam hari, menjadi pilihan favorit pendaki yang ingin makan cepat, murah, dan menggugah selera.
Cita Rasa Hangat yang Menguatkan Langkah Pendaki
Street food Nepal bukan hanya lezat, tetapi juga punya fungsi penting sebagai penyemangat di tengah perjalanan berat. Dari momo lembut hingga thukpa yang menghangatkan, setiap hidangan menghadirkan pengalaman kuliner yang sederhana namun berkesan. Tak heran, banyak pendaki yang pulang dengan membawa cerita seru tentang makanan lokal Nepal—bukan hanya tentang jalur trekkingnya.
BACA JUGA: Dessert Timur Tengah Berbahan Kurma yang Wajib Dicoba








