
Ketika mendengar kata minuman fermentasi, kebanyakan orang langsung terpikir yogurt, kombucha, atau mungkin tape dari Indonesia. Padahal, di berbagai belahan dunia, ada banyak minuman fermentasi unik yang jarang terdengar namun punya sejarah panjang dan cita rasa yang sangat khas. Beberapa bahkan masih diproduksi dengan cara tradisional turun-temurun. Yuk, kenalan dengan minuman-minuman menarik ini!
Chicha – Amerika Selatan

Chicha adalah minuman fermentasi tradisional dari wilayah Andean seperti Peru, Bolivia, dan Ekuador. Minuman ini umumnya dibuat dari jagung yang direbus, dikeringkan, kemudian difermentasi. Ada versi yang lebih unik lagi, yaitu chicha masticada, di mana jagung dikunyah terlebih dahulu untuk membantu proses fermentasi.
Rasanya sedikit asam, segar, dan punya aroma jagung yang cukup kuat. Chicha biasanya disajikan saat festival komunitas, upacara adat, atau sebagai minuman harian di beberapa desa pegunungan. Meski pembuatannya terdengar ekstrem, chicha adalah simbol kebersamaan dan ikatan sosial masyarakat Andean.
Kvass – Rusia & Eropa Timur

Kvass adalah minuman fermentasi rendah alkohol yang populer di Rusia, Ukraina, dan Belarus. Bahan dasarnya cukup unik: roti hitam. Roti ini direndam dan difermentasi bersama gula dan kadang-kadang buah kering.
Hasilnya adalah minuman berwarna cokelat gelap dengan rasa asam-manis ringan, mirip soda herbal tradisional. Kvass sering dinikmati pada musim panas karena sifatnya yang menyegarkan. Di beberapa tempat, kvass dijual dari tong kayu besar di pinggir jalan—mirip pedagang minuman keliling versi Eropa Timur.
Toddy / Palm Wine – Asia Selatan & Afrika

Toddy, atau palm wine, adalah minuman yang dibuat dari fermentasi nira kelapa atau aren. Meski beberapa daerah di Indonesia mengenalnya juga, versi di India Selatan, Sri Lanka, hingga Afrika Barat punya karakter rasa yang berbeda.
Ketika baru diturunkan dari pohon, rasanya manis seperti air kelapa. Namun dalam hitungan jam, cairan ini mulai berubah menjadi minuman bersoda alami dengan rasa asam lembut. Toddy sering dinikmati sebagai minuman santai di sore hari, terutama di desa-desa pesisir. Cara produksinya tetap sederhana: menampung getah di wadah tanah liat, lalu membiarkannya berfermentasi secara alami.
Pulque – Meksiko

Pulque adalah minuman khas Meksiko yang diproduksi dari fermentasi getah tanaman maguey—sejenis agave. Minuman ini sudah ada sejak era suku Aztec dan dulu dianggap suci, hanya boleh diminum oleh bangsawan dan pendeta.
Tekstur pulque sedikit kental, rasanya asam segar, dan punya aroma khas tanaman agave. Sekarang pulque populer di kalangan anak muda Meksiko dan sering disajikan dengan tambahan buah seperti stroberi atau nanas. Proses pembuatannya pun tetap tradisional, menggunakan bak fermentasi besar dari kayu.
Tepache – Meksiko

Masih dari Meksiko, tepache adalah minuman fermentasi ringan yang dibuat dari kulit nanas, gula merah, dan rempah seperti kayu manis. Jika kombucha terasa terlalu masam, tepache bisa jadi pilihan yang lebih ramah lidah.
Rasanya manis, sedikit bersoda, dan punya aroma tropis yang menyenangkan. Biasanya tepache dibuat di rumah sebagai minuman rumahan, mirip es fermentasi versi Meksiko.
BACA JUGA: Makanan Ritual dan Keagamaan Yang Ada di Dunia
Dari jagung, roti, hingga getah pohon—setiap budaya punya cara unik memanfaatkan fermentasi sebagai bagian dari kehidupan. Selain menarik dari segi rasa, minuman-minuman tradisional ini menyimpan cerita sejarah dan identitas yang kuat. Jadi, kalau sedang traveling, jangan ragu mencoba minuman lokal yang unik. Siapa tahu, kamu menemukan favorit baru!
Leave a Reply