Kalau ngomongin kuliner Afrika Timur, banyak orang langsung kepikiran injera atau hidangan pedas khas Ethiopia. Padahal, ada satu hal menarik yang sering kelewat dibahas: tradisi fermentasi makanan di Ethiopia Selatan! Daerah ini punya budaya kuliner yang unik, kaya rasa, dan penuh teknik pengolahan tradisional yang sudah diwariskan turun-temurun. Yuk, kita bahas lebih dalam kenapa menu fermentasi dari wilayah ini begitu spesial.

Fermentasi: Jantungnya Kuliner Ethiopia Selatan

Di Ethiopia Selatan, fermentasi bukan cuma teknik memasak—ini bagian dari kehidupan sehari-hari. Proses fermentasi dianggap mampu meningkatkan rasa, membuat makanan lebih tahan lama, dan tentu saja memberi manfaat kesehatan berkat bakteri baik yang dihasilkannya. Menu Tradisional hasil fermentasi ini juga sering jadi Menu Tradisional utama dalam perayaan adat dan kegiatan keluarga.

Fermentasi yang digunakan pun beragam, mulai dari fermentasi alami (wild fermentation) sampai penggunaan starter tradisional. Bahan yang difermentasi pun macam-macam: biji-bijian, sayuran, hingga daging. Semua dilakukan dengan teknik yang masih sangat tradisional dan autentik.

Kocho – Si Roti Fermentasi dari Tanaman Enset

Kocho adalah salah satu makanan paling ikonik dari Ethiopia Selatan. Makanan ini berasal dari tanaman enset, yang sering disebut sebagai “false banana.” Bukan dimakan buahnya, tapi batang dan akarnya diolah lalu difermentasi lama—bahkan bisa sampai berbulan-bulan.

Prosesnya lumayan panjang: batang enset diparut, diperas, lalu dicampur serat kecilnya. Setelah itu adonan disimpan di tanah atau wadah tradisional untuk difermentasi. Hasil akhirnya jadi semacam roti padat yang bisa dipanggang atau dimakan bareng hidangan lain seperti daging, sayur, atau saus khas Ethiopia.

Rasanya? Gurih, sedikit asam, dan teksturnya kenyal. Banyak yang bilang kocho adalah contoh terbaik bagaimana fermentasi bisa mengubah bahan sederhana jadi makanan bernilai tinggi.

Bulla – Bubuk Fermentasi Serbaguna

Masih dari tanaman enset, ada juga bulla, sejenis bubuk putih hasil ekstraksi pati enset. Bedanya, bulla punya tekstur lebih lembut dan sering digunakan untuk membuat bubur, roti lembut, atau minuman hangat.

Bulla biasanya difermentasi secara ringan sebelum dikeringkan. Hasilnya jadi bahan makanan yang tinggi energi dan bisa disimpan dalam waktu lama. Di Ethiopia Selatan, bulla dianggap makanan bergizi tinggi yang cocok untuk pemulihan tubuh, ibu baru melahirkan, atau orang yang sedang butuh tenaga ekstra.

Cheka – Minuman Fermentasi Tradisional yang Kaya Karakter

Selain makanan, wilayah ini juga punya minuman fermentasi khas, salah satunya cheka. Ini semacam minuman tradisional hasil fermentasi biji-bijian dan sayuran, tergantung daerah dan keluarga pembuatnya.

Rasanya cukup kompleks: agak asam, sedikit pahit, dan punya aroma khas hasil fermentasi alami. Cheka biasanya disajikan dalam acara komunal atau ketika ada tamu yang datang. Kuatnya tingkat fermentasi membuat minuman ini sering dianggap “energi booster” oleh masyarakat setempat.

Fermentasi Sebagai Identitas Budaya

Yang bikin kuliner Ethiopia Selatan unik adalah bagaimana fermentasi menjadi simbol identitas. Setiap keluarga punya resep dan teknik masing-masing, sehingga rasa makanan bisa berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya.

Fermentasi juga punya makna sosial. Prosesnya yang memakan waktu lama sering dilakukan bersama-sama, dan hasilnya dinikmati dalam momen kebersamaan. Jadi bukan sekadar teknik memasak, tapi tradisi yang memperkuat hubungan antaranggota komunitas.

Fermentasi yang Menghidupkan Rasa Lokal

Menu tradisional Ethiopia Selatan membuktikan bahwa fermentasi bukan hanya tren modern, tapi warisan kuno yang terus hidup. Dari kocho yang gurih, bulla yang lembut, sampai cheka yang khas, semuanya menggambarkan kreativitas kuliner masyarakatnya.

BACA JUGA: Jajanan Manis Jepang yang Belum Banyak Dikenal Dunia

Kalau kamu suka eksplor kuliner dunia, rasa-rasanya makanan fermentasi dari Ethiopia Selatan wajib masuk daftar petualangan rasa kamu. Rasanya unik, tekniknya menarik, dan ceritanya kaya budaya. Siap coba pengalaman rasa baru?