
Georgia mungkin bukan negara yang paling sering masuk radar kuliner banyak orang, tapi siapa sangka wilayah kecil di antara Asia dan Eropa ini punya kekayaan rasa yang unik banget. Lokasinya yang berada di jalur perdagangan kuno membuat makanan Tradisional Georgia punya perpaduan karakter: bumbu khas Timur, teknik masak ala Eropa, dan aroma rempah yang hangat. Hasilnya? Masakan yang comforting, kaya rasa, dan bikin penasaran sejak suapan pertama.
Di bawah ini, kita bakal bahas beberapa kuliner khas Georgia yang mencerminkan “perkawinan rasa” dua benua sekaligus. Cocok banget buat kamu yang suka eksplor kuliner unik dari negara-negara yang jarang dibahas.
Khachapuri: Roti Keju yang Hangat dan Bikin Ketagihan
Kalau ngomongin makanan Georgia, khachapuri pasti jadi yang pertama disebut. Ini adalah roti tradisional berisi keju yang teksturnya lembut dan asin gurih. Walau tampak mirip roti keju khas Eropa Timur, tapi teknik pemanggangan dan adonan fermentasinya lebih menyerupai gaya Asia Barat.
Salah satu versi paling terkenal adalah Adjaruli Khachapuri, yaitu roti berbentuk perahu yang di tengahnya berisi campuran keju lumer, mentega, dan kuning telur. Cara makannya? Sobek pinggirannya, celupkan ke tengah, dan nikmatin sensasi creamy yang meleleh di lidah. Sederhana, tapi nagih banget.
Khinkali: Dumpling Jumbo ala Georgia
Dari Asia, Georgia mengadopsi konsep dumpling. Tapi jangan bayangin seperti gyoza atau siomay—khinkali ini jauh lebih besar, tebal, dan juicy. Isinya biasanya berupa daging sapi atau domba yang sudah dibumbui lada hitam, bawang, dan rempah. Begitu direbus, lemak dan kuah di dalamnya menciptakan sensasi soup dumpling, mirip Xiao Long Bao hanya saja versi jumbo.
Cara makannya juga ada aturannya: pegang bagian ujungnya yang mirip “ekor”, gigit sedikit, seruput kuahnya, baru makan sisanya. Rasa Eropa? Ada. Sentuhan Asia Tengah? Kental banget.
Satsivi: Hidangan Walnut Cream dengan Aroma Timur yang Khas
Kalau kamu suka makanan beraroma rempah yang hangat, satsivi wajib masuk list. Ini adalah hidangan ayam (kadang kalkun) yang disajikan dengan saus walnut creamy yang kaya rasa. Perpaduan bawang putih, ketumbar, fenugreek, dan cuka anggur menciptakan rasa yang hampir mirip masakan Turki atau Persia, tapi tetap punya karakter Eropa dari teknik sausnya.
Yang bikin menarik, satsivi biasanya disajikan dingin—sesuatu yang jarang ditemukan pada masakan Asia. Tekstur creamy-nya mengingatkan pada saus ala Prancis, namun aromanya tetap kuat layaknya masakan Timur.
Lobio: Kacang Merah dengan Sentuhan Rempah Timur
Lobio adalah hidangan kacang merah yang dimasak dengan bawang, rempah, herba, dan kadang ditambahkan bubuk walnut. Ini adalah representasi sempurna penggabungan Asia dan Eropa: bahan dasar sederhana ala Eropa Timur, tetapi rempahnya mengarah ke Asia Barat. Biasanya disajikan dengan roti pipih bernama mchadi yang mirip tortilla namun lebih tebal dan gurih.
Makanan ini cocok untuk vegan dan sangat mengenyangkan. Cocok untuk makan malam hangat atau side dish.
Chakhokhbili: Ayam Tomat Berbumbu Eropa-Asia
Satu lagi hidangan rumahan yang sering muncul di meja makan keluarga Georgia adalah chakhokhbili. Sekilas mirip stew Eropa karena menggunakan tomat dan teknik slow-cooking. Tapi racikan rempahnya—seperti cilantro, paprika, dan fenugreek—memberikan nuansa Asia Barat yang lebih tajam dan hangat.
Rasa asam dari tomat bercampur rempah membuatnya seimbang, ringan, dan cocok untuk semua lidah.
BACA JUGA: Spesial Kuliner Uzbekistan: Dari Plov hingga Shashlik
Kuliner Georgia adalah bukti bahwa pertemuan budaya bisa menciptakan sesuatu yang luar biasa. Dari roti keju sampai dumpling juicy, hampir semua hidangannya punya sentuhan Asia dan Eropa sekaligus—memb
uatnya unik, ekspresif, dan penuh karakter. Cocok banget buat kamu yang suka eksplor rasa baru di luar zona nyaman kuliner biasa.
Leave a Reply